Bisnis Jatim

Di Hari Gizi 2020, Sosialisasi Masalah SKM Masih Menjadi Agenda Penting

 Breaking News

Di Hari Gizi 2020, Sosialisasi Masalah SKM Masih Menjadi Agenda Penting

Di Hari Gizi 2020, Sosialisasi Masalah SKM Masih Menjadi Agenda Penting
January 25
14:43 2020

Surabaya (bisnisjatim.co) – Sejak 2019 kader PW Muslimat NU Jatim telah mendapat edukasi mengenai asupan gizi anak serta cara bijak mengonsumsi susu kental manis. Program edukasi tersebut merupakan kerjasama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dengan PP Muslimat NU. Diharapkan melalui kader-kader organisasi perempuan ini, informasi mengenai gizi untuk anak dapat lebih efektif dan efisien sampai ke masyarakat, terutama ibu.

PW Muslimat NU Jatim merupakan organisasi perempuan yang memiliki kader di 10 ribu majelis taklim dan 4.000 TK dan Paud di seluruh Jawa Timur dapat melakukan edukasi kepada wali murid. Dalam setiap edukasi dihadiri oleh rata-rata 200 kader di tingkat kabupaten/kota. Kader yang telah teredukasi kemudian meneruskan informasi kepada lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga dan lingkungan disekitar rumah.

Ketua PW Muslimat NU Jatim, Hajjah Masruroh Wahid menyebutkan, taklim yang salah satu upaya yang dilakukan oleh Muslimat adalah dengan mengedukasi masyarakatnya tentang gizi seimbang, Tidak hanya pada anak, namun juga sejak seribu hari kehidupan. Mulai dari hamil hingga lahir. Selain sosialisasi melalui majelis taklim, sosialisasi mengenai gizi seimbang beserta parenting juga diberikan melalui 4.000 sekolah PAUD dan TK yang dimilikI Muslimat NU di Jatim.

Masruroh menjelaskan, masalah gizi dasar yang penanganannya harus dari grassroot. Ia menyebutm Jawa Timur merupakan provinsi yang besar dan memiliki banyak capaian. Sayangnya, tidak diimbangi dengan indeks pembangunan manusia yang tinggi. IPM Jawa Timur berada di angka 15 dan itu tergolong rendah.

Padahal, lanjutnya ada keterkaitan antara derajat  kesejahteraan ekonomi dan kemampuan SDM, dan pendidikan. “Jika pendidikan rendah, maka kesehatan masyarakatnya juga akan terus mengalami degradasi. Karena masyarakat yang seperti ini tidak paham mengasuh anak yang baik apa itu gizi, apa itu gizi seimbang,” lanjutnya.

“Memang masih ada daerah yang masih menggunakan SKM sebagai pengganti susu, mereka mengetahuinya dari iklan. Ini dapat terjadi karena latar belakang pendidikan, bisa juga masalah ekonomi namun lebih banyak karena masalah pengetahuan tentang produk SKM itu apa. Perlu kepedulian dan kerjasama berbagai pihak untuk menyosialisasi masalah tersebut. Karena hal ini penting, mempengaruhi generasi selanjutnya.” Jelas Masruroh.

Itulah mengapa, melalui majelis-majelis dan kader-kader setiap daerah. Pengurus Wilayah Muslimat ini berusaha untuk mendorong agar terjadi pemerataan pendidikan. Bagaimana anggotanya, yang notabene adalah paraibu-ibu untuk terus semangat bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi.

Sementara itu, langkah konkrit yang telah dilakukan oleh Muslimat di bidang kesehatan adalah melalui Posbindu (Pos Bimbingan Terpadu). Posbindu merupakan program kesehatan yang telah lama dijalankan oleh muslimat. Sistem kerjanya sama halnya dengan posyandu, namun sasarannya adalah ibu-ibu.

Posbindu tidak berdiri sendiri, namun memanfaatkan kegiatan majelis taklim dan pengajian yang sudah ada untuk disisipi kegiatan penyuluhan kesehatan. Di sini, anggota akan diberikan pembekalan kesehatan, termasuk gizi didalamnya, dilakukan pengukuran berat badan, penimbangan, pengukuran tensi dan lain sebagainya.

Dari sebuah survei yang telah dilakukan YAICI bersama PP Aisyiyah di sejumlah kota di Indonesia dengan temuan bahwa sebagian besar persepsi masyarakat dan keputusan-keputusan orang tua memberi asupan gizi untuk anak akibat iklan produk pangan di televisi. Pada periode September – November 2019, survei konsumsi Susu Kental Manis/Krimer Kental di Provinsi Aceh, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara Manado. Hasilnya, dapat disimpulkan bahwa iklan produk pangan pada media massa khususnya televisi sangat mempengaruhi keputusan orang tua terhadap pemberian asupan gizi untuk anak.

Sebanyak 37% responden beranggapan bahwa susu kental manis adalah susu, bukan topping, dan 73% responden mengetahui informasi susu kental manis sebagai susu dari iklan televisi. Betapa televisi menjadi konsumsi harian masyarakat yang berpengaruh terhadap pembentukan persepsi. Iklan sebagai promosi produk yang ditayangkan berulang yang akhirnya akan mempengaruhi  persepsi masyarakat terhadap produk yang diiklankan. Salah satu contohnya adalah susu kental manis, selama ini diiklankan sebagai susu, maka hingga hari ini masih ada masyarakat yang mengonsumsi susu kental manis sebagai susu, meskipun BPOM telah melarang.  Di 3 provinsi, Status gizi buruk 14.5 %  yang mengonsumsi SKM lebih dari 1 kal/shari, gizi kurang 29,1 % mengonsumsi SKM lebih dari 1 kali/hari.(mel)

 

Related Articles