Bisnis Jatim

Prediksi Pengusaha Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terus Anjlok

 Breaking News

Prediksi Pengusaha Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terus Anjlok

Prediksi Pengusaha Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Terus Anjlok
April 09
09:43 2020

Jakarta, bisnisjatim.co -Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia sudah sangat pesimistis dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5%.

Target tersebut tidak akan bisa dicapai di tengah wabah corona yang melemahkan perekonomian di Dunia khususnya Indonesia.

Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani menilai kemungkinan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan trus minus. Pihaknya sudah melakukan assesment alias kajian ekonomi secara makro.

“Yah, kita jangan bicara 5% lah sekarang. Dengan kondisi saat ini, kan di Kadin ada tim juga kita ambil assesment. Ini nggak menutup kemungkinan bisa akan minus,” jelas Rosan yang di kutip dari detikcom, di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2020).

“Assesment kita melihat, ini bisa jadi minus pertumbuhan kita, bukan cuma Indonesia pertumbuhan ekonomi yang melambat bagaikan sudah menjadi keseimbangan baru di seluruh dunia. China diprediksi hanya tumbuh 1%, India paling besar hanya tumbuh 2%” jelasnya.

“Mungkin ini lah ekuilibrium baru, sekarang banyak negara bicaranya pertumbuhannya minus, China aja diprediksi cuma 1%. India aja hanya nggak sampai 2%, gitu,” kata Rosan.

Bahkan, sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan skenario terburuk pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah penyebaran virus corona, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa di level 2,5%, bahkan 0%.

“Jika masalah jauh lebih berat dan durasi COVID lebih dari 3-6 bulan dan terjadi lockdown dan perdagangan internasional drop di bawah 30%, sampai dengan tadi beberapa penerbangan drop 75% hingga 100%, maka skenario bisa menjadi lebih dalam pertumbuhan ekonomi bisa 2,5-0%,” jelas Sri Mulyani melalui video conference dikutip dari akun Sekretariat Negara, Jumat (20/3/2020).

Sementara Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 di bawah 5%, sebagai dampak virus corona. Bahkan virus ini telah menelan 774 korban kematian di seluruh dunia, jauh lebih banyak dibandingkan wabah SARS yang menyerang pada 2002-2003.

“Pengaruhnya sangat besar ke perekonomian, kemarin kami perkirakan pertumbuhan ekonomi 4,8-5,1%, tapi kalau situasinya kaya gini kemungkinan besar bisa di bawah 5%, karena kita belum tahu berapa lama krisis ini berlangsung,” kata Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani yang dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (09/02/2020).

Ketidakpastian ini membuat pengusaha menyandarkan harapannya kepada pembentukan Omnibus Law, sebagai bentuk kepastian kepada dunia usaha. Pasalnya untuk mengantisipasi dampak dari merebaknya virus corona ekonomi domestik harus diperkuat dengan cara investasi.

Selama ini menurut Hariyadi investasi seringkali terhambat oleh ruwetnya aturan ketenagakerjaan dan perizinan, yang seringkali membuat repot pengusaha.

“Aturan pajak juga tidak kompetitif, makanya harus diubah. Kalau omnibus law ini bisa disetujui di DPR, maka diharapkan bisa mentrigger investasi,” katanya.

Adanya omnibus law juga diharapkan bisa mendorong penyerapan tenaga kerja. Selain itu, Apindo mendorong Kementerian Keuangan untuk menekan laju impor e-commerce, dengan tertib membayar pajak.

“Untuk laju impor e-commerce harus dikendalikan. Tidak fair jika barang impor tidak bayar pajak kalau di bawah US$ 70,” katanya.

Sebelumnya Apindo mengatakan dengan adanya omnibus law pertumbuhan ekonomi bisa sedikit di atas 5%.

“Dengan catatan kalau omnibus law besok lancar dan sesuai dengan ekspektasi kita semua, mungkin masih bergerak di 5,3% sampai akhir tahun,” kata Hariyadi.

Pasalnya dengan omnibus law cipta lapangan kerja dan omnibus law perpajakan, bisa membuat pengusaha untuk berproduksi, yang pada akhirnya akan berdampak terhadap perekonomian di dalam negeri.

“[Pertumbuhan ekonomi] kita di-drive oleh aktivitas di dalam negeri. Jadi kalau dalam negeri bisa dimanfaatkan dengan baik, karena nilai tambah dari perdagangan RI berasal dari dalam negeri. Asal tadi, jangan sampai justru kita [pemerintah] tidak bisa menyelesaikan virus corona dan masyarakat tidak bisa produktif,” jelas Hariyadi. (red)

Related Articles