Bisnis Jatim

Selamat Jalan Sahabat Mudaku

 Breaking News

Selamat Jalan Sahabat Mudaku

Selamat Jalan Sahabat Mudaku
June 24
15:55 2020

Bisnisjatim.co – Setelah mendengar berita duka tentang seorang teman jurnalis kami yang berpulang, salah satu sahabatnya yang juga kami kenal dengan baik. Seniman pelukis Surabaya, Hamid Naban bercerita tentang pertemenan baiknya dengan almarhum untuk sekedar mengenangnya.

Rabu, 3 juni 2020 di hari menjelang sore,  saya menerima telpon dari seorang teman yang mengabarkan berita duka tentang perginya seorang sahabat yang bagi saya layaknya seperti saudara sendiri,  ya Panji Dwi Anggara telah berpulang kehadirat Yang Maha Kuasa, sungguh berita yang sangat berat untuk saya terima.

Saya jadi teringat  awal pertemuan dengan salah satu sahabat saya itu. Sebenarnya pertemuan pertama saya dengan Mas Panji terjadi ketika saya mengadakan liputan ketika itu, saya akan berpameran di Jakarta dan saya ingat saat itu, Rabu siang, 6 juli 2011 di sebuah warung soto di jalan Genteng kali,  Mas Panji yang saat itu mewakili wartawan dari sebuah media di Surabaya, datang dengan teman- teman dari media yang lain,  itulah pertemuan awal saya dan dari pertemuan itu disusul dengan pertemuan pertemuan lain yang menjadikan keakraban jalinan persahabatan kami.

Mas Panji yang memiliki perawakan bertubuh besar adalah seorang teman yang mempunyai perasaan yang halus, orangnya sangat supel,  pandai dan periang,  bagi saya Mas Panji mempunyai pemikiran dan gagasan yang melebihi usianya.

Dari keakraban persahabatan ini tidak hanya sebatas mengenal secara pribadi, sampai saya pun dapat mengenal saudara- saudaranya dan juga ibundanya,  saya biasa memanggil mami dan tak jarang mami membuatkan masakan-masakan Padang yang sangat lezat mulai dari rendang sampai lotek yang rasanya tak akan mampu saya lupakan.

Terkadang diluar kerjaan Mas Panji kita sering kontak dan bertemu di rumah makan, bila ada rumah makan baru yang menyajikan menu masakan Timur Tengah saya beri kabar dengan sangat antusias untuk bertemu sambil ngobrol tentang rencana rencana ke depan,  dan biasanya kita banyak bercerita tentang sesuatu yang pribadi.

Waktu lebaran saya kirim ucapan lebaran kok tidak ada jawaban,  rasanya kok seperti ada yang beda tapi waktu itu saya bilang dalam hati Mas Panji lagi sibuk,  walaupun jauh hari sebelumnya saya selalu berpesan untuk menjaga kesehatan.

Di Akhir Pebruari tahun ini saya bertemu dengan sahabat saya itu bersama istrinya di kedai ice cream yang cukup terkenal di Surabaya, dari pertemuan ini lahirlah rencana untuk melakukan perjalanan ke Eropa,  Mas Panji ingin menulis tentang Negara – negara Eropa dan saya sendiri berencana melakukan studi serta melukis disana,  alam Spanyol yang berbukit – bukit bagi saya seperti alam pulau Madura yang sering saya buat obyek untuk lukisan.  Alhasil saat itu kami kemudian menyusun rencana. Dia sangat ingin mengunjungi Dresden, Jerman melihat masjid biru yang dibangun untuk meghormati pelukis Raden Saleh,  Mas Panji juga pernah mewawancarai saya soal masjid biru tersebut.

Kami akan mendatangi seluruh Negara di eropa barat. Ijin visa kami selama 6 bulan. Namun karena Mas Panji melakukan rencana program bayi tabung kami persingkat menjadi 13 hari.

Di Awal Maret melalui seorang teman yang dekat dengan kedutaan Spanyol kami berangkat untuk pengajuan visa di Jakarta, tanpa sedikit kesulitan sesudahnya langsung menuju Gambir untuk pulang ke Surabaya. Dalam perjalanan kami banyak bercanda dan bercerita tentang kenangan masa lalu dan tentunya juga Mas Panji bercerita tentang keinginannya mempunyai buah Hati.  Kami berpisah menjelang subuh ketika kereta tiba di Surabaya, saat itu mami dan keluarganya suda menunggu di pintu keluar stasiun.

Minggu berikutnya pandemi covid-19 datang begitu cepat dan kamipun bersepakat untuk menunda perjalanan ini,  ketika saya sudah mendapatkan visa kami, dan saya pun segera mengabari Mas Panji. Dia  sangat senang dan saya beritahukan pasportnya sudah saya pegang,  seperti sebuah firasat Mas Panji mengatakan, “Mas paspornya dipegang dan disimpan Mas Hamid saja.”

Terahir ketemu setelah dari jakarta kami bertemu di Indian Resto di daerah Ampel sekitar pertengahan Maret untuk membicarakan penundaan itu.

Benar juga di awal juni berita yang sangat mengagetkan  saya terima dengan rasa sedih rupanya Mas Panji telah lebih dulu melakukan perjalanannya,  perjalanan yang abadi.

Saya teringat sebuah kata bijak yang mengatakan “Setiap teman mewakili dunia kita, dunia yang mungkin belum terlahir, sampai mereka tiba, dan hanya dengan pertemuan inilah dunia baru terlahir. ”  Selamat jalan sahabat.(mel)

Related Articles